Pengobatan terjangkau akan segera tersedia bagi anak-anak pengidap HIV di negara-negara miskin dan menengah, berkat sebuah perjanjian antara badan kesehatan global UNITAID dan Inisiatif Akses Kesehatan Clinton atau CHAI.

Pengobatan anak telah tersedia bagi anak-anak di negara-negara kaya, tapi belum terjangkau bagi anak-anak di negara-negara miskin. Sebuah perjanjian baru dengan pembuat obat generik, Viatris dan Macleods, akan menurunkan harganya secara signifikan.

UNITAID dan CHAI berencana meluncurkan pengobatan anti-retroviral pertama, terutama yang dirancang bagi anak-anak tahun depan di enam negara Afrika: Benin, Kenya, Malawi, Nigeria, Uganda dan Zimbabwe.

Sekitar 1.7 juta anak di seluruh dunia mengidap HIV, tapi hanya separuhnya yang menerima pengobatan dan 100.000 anak meninggal dunia setiap tahun karena virus itu.

Seorang ibu dan anaknya di Puskesmas Bangui di Bangui, 17 Desember 2013. (Foto: dok).


Seorang ibu dan anaknya di Puskesmas Bangui di Bangui, 17 Desember 2013. (Foto: dok).

Juru bicara UNITAID Herve Verhoosel mengatakan pada banyak anak, virus HIV dalam tubuh mereka dibiarkan saja dan tidak ditangani. Sebagian karena kurangnya ketersediaan obat-obatan yang efektif yang benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.

“Banyak anak yang mengidap HIV memiliki respon pengobatan yang buruk karena mereka meminum obat-obatan anti-retroviral yang tidak tepat dosisnya atau pahit rasanya… Dengan obat baru yang sangat penting ini — pengobatan akan jadi jauh lebih mudah dan jauh lebih terjangkau harganya,” jelasnya.

Verhoosel mengatakan anak-anak kecil akan menyukai pil rasa stroberi itu.
Berdasarkan perjanjian harga yang baru, biaya pengobatan HIV untuk anak-anak per tahun akan berkurang secara signifikan, dari lebih dari 480 dolar per anak menjadi kurang dari 120 dolar per anak. [vm/lt]

Sumber: VOA Indonesia