Kementerian Kesehatan India, Senin (5/4) menyatakan telah mencatat 103.558 kasus baru virus corona, jumlah penambahan kasus harian tertinggi tahun ini di negara di Asia Selatan itu.

Mumbai, ibu kota keuangan India dan ibu kota negara bagian Maharashtra, kini berada di bawah lockdown yang ketat. Sekitar separuh dari kasus baru virus corona di India tercatat di Maharashtra.

Nawab Malik, seorang menteri di pemerintah negara bagian tersebut, mengatakan kepada para wartawan, jam malam mulai pukul 8 malam hingga 7 pagi mulai diberlakukan hari Senin (5/4). Pusat-pusat perbelanjaan, bioskop, bar, restoran dan tempat-tempat ibadah ditutup mulai Senin malam. Lockdown total akan berlaku juga pada akhir pekan.

Baca Juga:  Indonesia, Uni Eropa, dan WHO Sepakat Perkuat Kerjasama Penanganan Pandemi COVID-19

Saumya Gupta, warga New Delhi mengatakan, masalah besarnya adalah orang-orang tidak bersikap serius dan mengira wabah ini akan berlalu seperti tahun lalu. Orang-orang kembali berkumpul, mengikuti berbagai perayaan termasuk pesta pernikahan, jelasnya.

Hanya dua negara yang memiliki kasus terkonfirmasi lebih banyak daripada India yang sekarang mencatat lebih dari 12,5 juta kasus, sebut Johns Hopkins Coronavirus Resource Center. Amerika Serikat memiliki 30,7 juta kasus, sedangkan Brazil mendekati 13 juta kasus.

Jutaan orang di seluruh dunia kini di bawah restriksi baru selama akhir pekan Paskah, karena infeksi telah melonjak meskipun program vaksinasi terus berlangsung.

Perayaan Paskah di Katedral Santo Yohanes Pembaptis di Charleston, South Carolina, 4 April 2021 di tengah pandemi COVID-19. (Foto: Daniel SLIM / AFP)


Perayaan Paskah di Katedral Santo Yohanes Pembaptis di Charleston, South Carolina, 4 April 2021 di tengah pandemi COVID-19. (Foto: Daniel SLIM / AFP)

AS pekan lalu menyatakan sebagai negara pertama yang telah memvaksinasi penuh 100 juta orang. Pengumuman ini muncul lebih dari sepekan setelah pemerintahan Presiden Joe Biden mencapai targetnya memberikan 100 juta suntikan. Namun kasus COVID-19 masih meningkat di beberapa wilayah di AS.

Dibandingkan dengan AS, negara-negara Eropa masih berjuang keras untuk mempercepat program vaksinasi.

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan baru 10 persen populasi Eropa yang telah menerima satu dosis vaksin, dan hanya empat persen yang telah menerima dua dosis. Satu alasan atas kelambatan di antara negara-negara Eropa adalah tingkat kepercayaan mereka pada vaksin AstraZeneca.

Ada berbagai laporan mengenai penggumpalan darah pada beberapa orang yang menerima vaksin itu, tetapi produsennya menolak pernyataan tersebut dan mendapati tidak ada bukti yang mengaitkan vaksin dengan penggumpalan darah. Kanada, Perancis, Jerman dan Belanda mengizinkan penggunaan vaksin itu hanya untuk orang-orang yang berusia lanjut.

Botol-botol vaksin COVID-19 produksi Johnson & Johnson, 6 Maret 2021. (Foto: dok).


Botol-botol vaksin COVID-19 produksi Johnson & Johnson, 6 Maret 2021. (Foto: dok).

Sementara itu, fasilitas Emergent BioSolutions di Baltimore, Maryland, di mana vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson diproduksi di AS, mengumumkan pada Minggu malam bahwa perusahaan itu telah menerima modifikasi terhadap kontraknya dengan Departemen Kesehatan AS yang bernilai 23 juta dolar.

Emergent mengemukakan dalam sebuah pernyataan, 23 juta dolar akan digunakan untuk membeli peralatan manufaktur biologi khusus untuk vaksin COVID-19 Johnson & Johnson.

Baru-baru ini terungkap bahwa pegawai Emergent secara tidak sengaja menggunakan bahan-bahan dari Johnson & Johnson dan AstraZeneca sewaktu memproduksi sejumlah besar vaksin. Kekeliruan itu ditemukan sebelum vaksin itu dikirimkan.

Vaksin AstraZeneca belum mendapat persetujuan penggunaan di AS, tetapi AS telah mencapai kesepakatan untuk mengirim jutaan dosis vaksin tersebut ke Kanada dan Meksiko. [uh/ab]

Sumber: VOA Indonesia