Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Piket mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan bantuan senilai 2 juta euro untuk mendukung penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia.

Menurutnya, bantuan tersebut mendukung motto Presiden Joko Widodo yang berbunyi “Tidak akan ada seorang pun yang selamat, sampai semua orang bisa selamat”. Piket mengatakan, semua pihak harus saling bahu membahu agar bisa segera keluar dari kesehatan ini.

“Hari ini kita meluncurkan program yang sangat bagus, program yang sangat penting yang diatur oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Uni Eropa memberikan bantuan kepada WHO sebesar 20 juta euro (untuk penanganan pandemi) di Asia tenggara, dan 2 juta euro untuk Indonesia,” ujarnya dalam acara Peluncuran Kerjasama WHO-Uni Eropa-Kementerian Kesehatan untuk Kesiapsiagaan dan Respon menghadapi Pandemi COVID-19, di Jakarta, Jumat (12/3).

Baca Juga:  Lolos dari Maut, Dokter Minta Warga Tetap Disiplin Meski Ada Vaksin

Lanjutnya, Uni Eropa juga mendukung kerjasama multilateral dengan berbagai pihak seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), WHO, dan UNICEF agar perebakan wabah virus corona bisa teratasi dengan baik dan juga mendukung kesetaraan setiap negara untuk mendapatkan vaksin COVID-19 lewat program COVID-19 Vaccines Global Access atau COVAX.

WHO Puji Indonesia Soal Program Vaksinasi Massal

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. Navaratnasamy Paranietharan mengungkapkan kemitraan antara pemerintah Indonesia, Uni Eropa dan WHO dilakukan selain untuk memperkuat penanganan pandemi COVID-19, juga untuk memperkuat sistem dan infrastruktur kesehatan di Indonesia di masa yang akan datang.

Ia menilai selama satu tahun penanganan pandemi, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya yang baik termasuk mendorong percepatan program vaksinasi massal COVID-19.

Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. Navaratnasamy Paranietharan. (Foto:VOA).


Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. Navaratnasamy Paranietharan. (Foto:VOA).

“Indonesia termasuk negara berkembang yang memulai program vaksinasi massal COVID-19 lebih awal daripada negara berkembang lainnya, dengan dukungan penuh dari fasilitas COVAX dan semua partner,” ungkap Navaratnasamy.

Ia berharap, setelah kalangan prioritas seperti tenaga kesehatan dan petugas layanan publik mendapatkan vaksinasi COVID-19, seluruh target masyarakat di Indonesia sebanyak 181,5 juta orang akan segera mendapatkan vaksin tersebut.

Navara juga menginginkan kemitraan ini dapat meningkatkan solidaritas global, agar semua negara di dunia mendapatkan vaksin COVID-19 yang efektif dan juga aman.

Pemerintah Apresiasi Dukungan Internasional Terhadap Indonesia

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku senang mendapatkan dukungan dari Uni Eropa dan WHO dalam upaya memerangi perebakan wabah virus corona di Tanah Air.

Dukungan tersebut, ujar Budi, akan senantiasa menjadi cambuk bagi pemerintah untuk terus memperbaiki sistem dan infrastruktur kesehatan di Indonesia. Selain itu, pihaknya juga akan terus meningkatkan protokol kesehatan agar bisa memenuhi standar internasional.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi bantuan internasional dalam upaya penanganan pandemi di tanah air. (Foto:VOA).


Menkes Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi bantuan internasional dalam upaya penanganan pandemi di tanah air. (Foto:VOA).

“Saya sangat terhormat bahwa Indonesia bisa mendapat dukungan penuh dari WHO, UNICEF, dan EU untuk memastikan apa yang semua kita lakukan di sini bisa sesuai dengan standar global,” ungkap Budi.

Ditambahkannya, peningkatan standar protokol kesehatan menjadi sangat penting dalam salah satu upaya penanggulangan pandemi di Indonesia, apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah acara internasional bergengsi seperti pertemuan G20 pada tahun 2022.

Pemerintah Perkuat Empat Pilar Penanganan Pandemi

Budi mengungkapkan ada empat pilar yang harus diperkuat dalam penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. Pertama, katanya, pilar diagnosis dimana pemerintah harus memperkuat kapasitas testing, pelacakan dan isolasi.

“Ini pilar yang sangat penting karena kita bisa mengidentifikasi siapa saja yang terinfeksi, kemudian bisa menekan laju penyebaran virus corona dengan cepat. Pilar ini memang membutuhkan perbaikan yang sangat banyak,” jelasnya.

Pilar kedua, adalah perawatan di mana sistem kesehatan Indonesia harus bisa menangani seseorang yang terkena virus ini dengan cepat dan tepat. Menurutnya, Indonesia dalam hal ini cukup mengalami kemajuan yang signifikan dalam menangani pasien COVID-19 dari mulai pengobatan sampai akses yang mudah untuk mendapatkan perawatan.

Pemerintah Indonesia resmi menerima 10 juta dosis bahan baku vaksin COVID-19 merk Sinovac, dari Beijing yang mendarat di Bandara Soetta, Cengkareng , Selasa (2/3) (biro Setpres)


Pemerintah Indonesia resmi menerima 10 juta dosis bahan baku vaksin COVID-19 merk Sinovac, dari Beijing yang mendarat di Bandara Soetta, Cengkareng , Selasa (2/3) (biro Setpres)

Pilar ketiga, adalah vaksinasi COVID-19. Budi menjelaskan bahwa sampai saat ini pihaknya baru mampu melakukan vaksinasi kepada kurang lebih 400.000 orang per hari. Ia menargetkan ke depannya bisa melakukan vaksinasi sebanyak 1 juta orang per hari, sehingga bisa menyelesaikan vaksinasi kepada 181,5 juta orang di Indonesia pada akhir tahun ini. Namun ia menekankan hal tersebut masih bergantung kepada ketersediaan vaksin COVID-19.

Pilar keempat, jelas Budi adalah bagaimana Indonesia bisa memperbaiki sistem kesehatan publik termasuk memperkuat keberadaan puskesmas agar bisa mengedukasi seluruh masyarakat untuk menerapkan standar protokol kesehatan yang baru. [gi/ab]

Sumber: VOA Indonesia