Beranda Kesehatan Inggris Setujui Uji Pertama pada Manusia untuk Kaji Efek COVID-19

Inggris Setujui Uji Pertama pada Manusia untuk Kaji Efek COVID-19

8

Pemerintah Inggris telah menyetujui suatu penelitian pertama di dunia yang akan membuat partisipannya sengaja ditulari virus corona.

Berdasarkan apa yang disebut uji tantangan pertama pada manusia, hingga 90 sukarelawan sehat berusia antara 18 dan 30 tahun akan dipapari virus itu dalam “lingkungan yang aman dan terkendali” agar para peneliti dapat mempelajari bagaimana virus itu menular dan berdampak pada orang-orang. Tujuan akhirnya adalah mengembangkan lebih banyak lagi vaksin dan pengobatan yang efektif. Uji coba ini dijadwalkan dimulai bulan depan di Royal Free Hospital, London.

Sementara itu, Jepang, Rabu (17/2) memulai program vaksinasi COVID-19-nya yang telah lama ditunggu-tunggu.

Vaksinasi pertama berlangsung di sebuah rumah sakit di Tokyo, hanya beberapa jam setelah rumah sakit itu menerima vaksin Pfizer-BioNTech. Hingga 40 ribu dokter dan juru rawat di berbagai penjuru negara itu akan menerima dosis pertama vaksin, dengan sasaran akhirnya adalah memvaksinasi 3,7 juta personel medis pada akhir Maret, diikuti oleh sekitar 36 juta warga berusia 65 tahun ke atas.

Baca Juga:  PBB Peringatkan Diskriminasi dan Stigma Dorong Krisis AIDS dan Covid-19

Program vaksinasi Jepang dimulai dengan lambat. Otoritas kesehatan baru secara resmi menyetujui penggunaan vaksin Pfizer-BioNTech pada hari Minggu lalu. Para pejabat meminta Pfizer agar melakukan tes-tes lanjutan terhadap vaksin itu selain tes sebelumnya yang telah dilakukan di beberapa negara lain. Taro Kono, menteri vaksin Jepang, mengatakan kepada wartawan hari Selasa bahwa tes tambahan itu dilakukan untuk meyakinkan warga Jepang mengenai keamanan vaksin tersebut.

Seorang nakes mengisi jarum suntik dengan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech di Tokyo Medical Center, Tokyo, Rabu, 17 Februari 2021.


Seorang nakes mengisi jarum suntik dengan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech di Tokyo Medical Center, Tokyo, Rabu, 17 Februari 2021.

Vaksinasi tidak diwajibkan di Jepang. Dan meskipun Kono menyatakan keyakinan ia dapat menjangkau para pekerja garis depan dan warga lansia, ia mengakui bahwa ia perlu merumuskan suatu rencana agar berhasil menjangkau orang-orang berusia lebih muda dan mendorong mereka untuk mau divaksinasi.

Selain dengan Pfizer-BioNTech, Jepang juga telah menandatangani kontrak pengadaan jutaan dosis vaksin dari AstraZeneca dan Moderna, yang jumlahnya cukup untuk seluruh 157 juta warganya. Negara itu berharap telah cukup banyak orang divaksinasi pada waktu berlangsungnya Olimpiade musim panas yang telah ditunda dan dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang.

Jepang adalah anggota terakhir dari kelompok negara industri maju G7 yang memulai program vaksinasi.

Di Afrika Selatan, Presiden Cyril Ramaphosa akan bergabung dengan para pekerja layanan kesehatan dalam menerima dosis pertama vaksin baru yang dikembangkan perusahaan farmasi AS Johnson & Johnson. Sekitar 80 ribu dosis tiba di Johannesburg Selasa malam, dengan total 500 ribu dosis diperkirakan akan dikirim ke Afrika Selatan dalam beberapa pekan mendatang.

Afrika Selatan telah membeli 1 juta dosis vaksin yang dikembangkan AstraZeneca dan Oxford University, tetapi membatalkan rencana untuk membelinya setelah suatu studi mengungkapkan vaksin itu kurang efektif dalam menghadapi varian virus corona yang ditemukan di negara itu.

Menteri Kesehatan Zweli Mkhize mengatakan kepada parlemen hari Rabu (17/2) bahwa Afrika Selatan akan berbagi vaksin AstraZeneca-Oxford dengan Uni Afrika yang akan mendistribusikannya ke berbagai penjuru benua itu.

Vaksin berdosis tunggal buatan Johnson & Johnson vaccine belum resmi disetujui penggunaannya di negara manapun, tetapi perusahaan itu menyatakan hasil uji klinis tahap akhir menunjukkan vaksin itu 85 persen efektif dalam mencegah penyakit yang serius atau kematian akibat COVID-19, bahkan terhadap varian Afrika Selatan. Afrika Selatan juga telah membeli 20 juta dosis vaksin buatan Pfizer-BioNTech.

Di AS, Presiden Joe Biden, Selasa malam (16/2) mengatakan negara itu akan memiliki lebih dari 600 juta dosis vaksin virus corona, cukup banyak untuk mengimunisasi “setiap orang Amerika” pada akhir Juli mendatang. Biden mengemukakan tekad itu dalam acara tanya-jawab di Milwaukee, Wisconsin, yang ditayangkan oleh CNN.

Anderson Cooper (kanan) mendengarkan Presiden Joe Biden saat menjawab pertanyaan dalam siaran langsung yang disiarkan melalui televisi di Pabst Theatre, Milwaukee, Selasa, 16 Februari 2021. (Foto AP / Evan Vucci)


Anderson Cooper (kanan) mendengarkan Presiden Joe Biden saat menjawab pertanyaan dalam siaran langsung yang disiarkan melalui televisi di Pabst Theatre, Milwaukee, Selasa, 16 Februari 2021. (Foto AP / Evan Vucci)

Ketika ditanya oleh moderator, Anderson Cooper, kapan AS akan kembali normal, Biden mengatakan pada Natal mendatang “kita akan berada dalam situasi yang sangat berbeda, atas kehendak Tuhan, daripada sekarang ini.” Gedung Putih sebelumnya mengumumkan bahwa pemerintah federal akan meningkatkan jumlah vaksin COVID-19 yang diterima negara bagian setiap pekan dari 11 juta dosis menjadi 13,5 juta dosis.

Biden juga mengatakan bahwa negara bagian harus memprioritaskan guru-guru sekolah negeri dalam program vaksinasi mereka sebagai bagian dari strategi membuka kembali sekolah-sekolah menjadi kelas-kelas tatap muka sepenuhnya.

Hingga Rabu, ada lebih dari 109,5 juta kasus virus corona terkukuhkan di seluruh dunia, termasuk 2,4 juta kematian, sebut Johns Hopkins University Coronavirus Resource Center. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan jumlah kasus baru yang terkonfirmasi turun 16 persen pekan lalu menjadi 2,7 juta, sementara jumlah kematian tambahan 81 ribu, suatu penurunan 10 persen.[uh/ab]

Sumber: VOA Indonesia