Provinsi Bali mulai bangkit dari keterpurukan pariwisata akibat pandemi Covid-19. Sejumlah objek pariwisata mulai dibuka untuk umum dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Para pengelola juga dilengkapi dengan pelindung diri, mulai dari memakai masker, hingga memakai face shield.

Kami berkesempatan mengunjungi langsung beberapa wisata budaya di Bali bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Seperti Pura Taman Ayun, Kumulilir, Desa Penglipuran, Pura Tampak Siring, dan Konservasi Penyu. Diseluruh lokasi tersebut terlihat sudah diterapkan protokol kesehatan yang baik.

Seperti di Taman Ayun, sebelum masuk ke area wisata pengunjung akan dicek suhu tubuh lalu diminta mencuci tangan dengan sabun. Setelah itu, pengunjung bisa menikmati pesona situs warisan budaya dunia peninggalan kerajaan Mengwi tersebut.

Baca Juga:  Waspada delirium, gejala baru yang dialami pasien Covid-19

Protokol kesehatan juga diterapkan di Desa Penglipuran. Lokasi wisata ini termasuk salah satu yang sangat terdampak pandemi Covid-19. Sebab, selama 7 bulan tidak bisa beroperasi. Sekitar 70 KK yang tinggal di situ hampir tak ada pemasukan dari sektor pariwisata, mereka hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah setempat. Bagaimana tidak? Keseharian mereka hanya mengandalkan penjualan souvenir untuk wisatawan.

Saat datang ke sana, jumlah wisatawan masih bisa dihitung dengan jari, sangat kontras dibanding sebelum pandemi datang. Dulu, dalam sehari kunjungan wisata ke desa sekitar 700 orang per hari. Sulitnya kondisi ekonomi saat ini bahkan membuat pengelola wisata tarif retribusi untuk wisatawan yang berkunjung. Pengelola hanya menyediakan kotak donasi yang bisa diisi berapa pun oleh pengunjung.

Baca Juga:  Riset Institute of Molecular Virology: Teh Hijau Dan Buah Delima Mampu Cegah Covid-19

Kumulilir juga salah satu destinasi wisata yang terdampak pandemi namun masih bisa bertahan di tengah krisis pemasukan. Tentunya protokol kesehatan yang ketat diterapkan bagi setiap pengunjung demi keselamatan bersama.

Pandemi juga secara tidak langsung mengubah pasar Kumulilir. Karena wisatawan yang datang lebih banyak adalah domestik. Untuk wisatawan mancanegara belum tampak terjadi lonjakan.

“Kalau dulu cuma kopi. Sekarang ada tempat lain seperti play ground. Karena kalau domestik kan cenderung untuk keluarga,” kata pemilik Kumulilir, Nyoman Diana.

Perubahan itu yang membuat Kumulilir tidak lagi hanya sekedar untuk tempat ngopi. Saat ini terdapat area bermain untuk anak dan dewasa. Tentunya tanpa menghilangkan ciri khas lokasi wisata dengan berbagai macam kopi unggulan. Seperti kopi luwak, kopi gingsen, kopi bali, dan lain sebagainya. Di sini, wisatawan juga bisa melihat langsung hewan luwak penghasil kopi luwak, lengkap dengan proses meracik kopi luwak dari membersihkan biji kopi dari kotoran luwak hingga bisa dinikmati sebagai minuman.

Baca Juga:  Kampung Adat Gurusina mengalami musibah kebakaran! Simak Keindahannya Sebelum Musibah Terjadi.

Kemenparekraf RI mengingatkan kepada masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan 3M secara disiplin ketika mengunjungi lokasi wisata. Dengan cara memakai, menjaga jarak dan mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun.

Saksikan video menarik berikut ini:

Sumber: JawaPos