AS hampir memiliki vaksin COVID-19 kedua. Regulator di Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) Selasa (15/12) menyatakan bahwa analisis pendahuluannya terhadap vaksin yang dikembangkan Moderna dan Lembaga Kesehatan Nasional mengukuhkan keamanan dan efektivitasnya.

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa empat sukarelawan dalam uji klinis tahap akhir mengalami Bell’s palsy, suatu kondisi yang menyebabkan kelumpuhan sementara atau kelemahan dalam otot-otot wajah seseorang. Tiga di antara partisipan itu menerima vaksin, sedangkan seorang lainnya menerima plasebo.

Proses persetujuan terhadap vaksin dua dosis itu kini berada di pihak Komite Penasihat Vaksin dan Produk-produk Biologis Terkait FDA yang akan bertemu hari Kamis. Jika komite mengukuhkan persetujuannya, FDA kemudian akan memberi izin penggunaan darurat bagi vaksin Moderna.

Kayleigh McEnany di Gedung Putih, 15 Desember 2020.


Kayleigh McEnany di Gedung Putih, 15 Desember 2020.

Juru Bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan kepada wartawan hari Selasa, 6 juta dosis vaksin Moderna dapat dikirim untuk publik pekan depan setelah FDA mengeluarkan izin. Dosis-dosis awal vaksin COVID-19 yang dikembangkan bersama oleh perusahaan farmasi AS Pfizer dan perusahaan Jerman BioNTech diberikan kepada para petugas layanan kesehatan di berbagai penjuru AS pekan ini.

Menjelang keputusan akhir mengenai vaksin Moderna, FDA memberi persetujuan sementara hari Selasa terhadap tes COVID-19 yang bisa dibeli tanpa resep, yang dikembangkan Ellume, sebuah perusahaan teknologi layanan kesehatan berbasis di Australia. Perangkat tes untuk digunakan sendiri di rumah itu menunjukkan hasil dalam waktu 15-20 menit melalui aplikasi di ponsel pintar.

Virus corona yang menyebabkan COVID-19 telah membuat lebih dari 73,5 juta orang sakit di seluruh dunia, termasuk 1,6 juta yang meninggal.

Sementara AS, Inggris dan negara-negara lain meningkatkan upaya mereka untuk melakukan imunisasi COVID-19 untuk warga mereka, suatu penelitian baru menyatakan sedikitnya seperlima populasi dunia mungkin tidak memiliki akses ke vaksin COVID-19 hingga 2022, karena negara-negara kaya membeli lebih dari separuh dosis potensial tahun depan.

Hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Johns Hopkins itu muncul hanya beberapa hari setelah Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan tentang bangkitnya “nasionalisme vaksin” di kalangan negara-negara kaya dengan mengorbankan negara-negara lebih miskin.

Para pengunjung mengenakan masker saat berada di Times Square, New York, 10 Desember 2020.


Para pengunjung mengenakan masker saat berada di Times Square, New York, 10 Desember 2020.

Dua perayaan terbesar di dunia untuk menyambut Tahun Baru akan dibatasi atau dibatalkan karena pandemi. Kota New York melarang para pengunjung mendatangi kawasan bersejarah Times Square di kota itu untuk menyaksikan acara ikonik ball drop yang menghitung mundur detik-detik terakhir tahun yang akan ditinggalkan.

Di Brazil, para pejabat di Rio de Janeiro Selasa mengumumkan tentang pembatalan acara pesta pantai tahunan pada malam Tahun Baru, yang biasanya mengundang ratusan ribu pengunjung dengan hiburan musik live dan pertunjukan kembang api yang spektakuler. [uh/ab]

Sumber: VOA Indonesia