Malawi menyatakan perekrutan ratusan petugas layanan kesehatan dilakukan untuk mengatasi kekurangan sementara negara itu berjuang menangani lonjakan infeksi COVID-19. Para petugas kesehatan menyambut baik langkah tersebut namun menyampaikan bahwa pemerintah perlu melakukan lebih dari sekadar mempekerjakan lebih banyak perawat.

Data statistik pemerintah menunjukkan sekitar 900 petugas kesehatan Malawi saat ini berada dalam karantina setelah terpapar COVID-19. Sepuluh dari mereka telah meninggal.

Dr. Charles Mwansambo, Sekretaris Kementerian Kesehatan Malawi, dalam acara pidato kepresidenan yang disiarkan televisi pada Minggu malam (24/1), menyampaikan bahwa pemerintah Malawi berusaha merekrut 1.380 petugas kesehatan baru dari berbagai sekolah pada minggu terakhir Januari 2021, untuk mengatasi kekurangan itu.

Baca Juga:  Indonesia Tunda Penggunaan Vaksin COVID-19 AstraZeneca

“Sekitar 219 pekerja ditugaskan di rumah sakit pusat, 150 pekerja untuk fasilitas CHAM atau Asosiasi Kesehatan Kristen Malawi dan 377 untuk rumah sakit distrik. Kita juga merekrut 634 pekerja magang,” kata Mwansambo.

Malawi menghadapi banyak tantangan terkait COVID-19, termasuk kekurangan alat pelindung diri atau APD.

Mwansambo menjelaskan Malawi telah menyisihkan sekitar $1,2 juta untuk pengadaan APD.

Tetapi tidak hanya itu, ia lebih jauh memaparkan, “Kabupaten di mana pandemi parah terjadi sudah dilengkapi dengan unit-unit perawatan darurat. Langkah selanjutnya adalah mendirikan unit perawatan darurat di setiap distrik lainnya dengan kapasitas tempat tidur antara 30 dan 60 unit.”

Petugas medis mengenakan APD, tengah menunggu giliran tugas piket di pusat perawatan utama pasien COVID-19 Rumah Sakit Pusat Kamuzu di Lilongwe, Malawi, 18 Januari 2021.


Petugas medis mengenakan APD, tengah menunggu giliran tugas piket di pusat perawatan utama pasien COVID-19 Rumah Sakit Pusat Kamuzu di Lilongwe, Malawi, 18 Januari 2021.

Dalam pidatonya minggu malam (24/1), Presiden Malawi Lazarus Chakwera menyatakan prihatin dengan lonjakan infeksi virus corona yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Dalam tujuh hari terakhir telah dikonfirmasi keseluruhan 6.675 infeksi baru, yang berarti rata-rata 953 infeksi terkonfirmasi per hari. Artinya, rata-rata jumlah infeksi baru harian dari minggu lalu dua kali lipat dari minggu sebelumnya,” jelas Chakwera.

Sejumlah pedoman itu termasuk jam malam, penangguhan sekolah-sekolah dan sebuah rekomendasi agar warga Malawi mengenakan masker. [mg/lt]

Sumber: VOA Indonesia