Masa-Masa Kehamilan Yang Perlu Diperhatikan

163
Masa-Masa Kehamilan

Masa-Masa Kehamilan, dalam sebuah pernikahan, kehadiran seorang anak merupakan dambaan dari setiap pasangan suami istri.

Kehamilan menjadi bagian episode yang ditunggu-tunggu untuk melengkapi rangkaian cerita didalam rumah tangga.

Saat seorang istri tak kunjung hamil, seringkali membuat perasaan menjadi gundah, gelisah, dan yang paling fatal adalah datangnya sika putus asa.

Banyak menimbulkan berbagai pertanyaan, baik dari diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.

Padahal, kehamilan adalah sebuah anugerah dari Tuhan, yang tidak semua wanita bisa merasakannya.

Seorang wanita dikatakan hamil jika memiliki janin yang tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya.

Kehamilan akan terjadi ketika sepasang suami istri melakukan hubungan seksual pada saat ovulasi (ketika rahim melepaskan sel telur matang) atau masa subur dan sel sperma berhasil membuahi sel telur matang tersebut.

Masa kehamilan berlangsung antara 40 minggu (280 hari) atau 9 bulan, dihitung dari awal periode menstruas terakhir sampai saat melahirkan.

Kehamilan tersebut dibagimenjadi tiga periode atau trimester, masing-masing berlangsung selama 3 bulan.

Kehamilan merupakan faktor penentu dari keturunan akan dilahirkan. Pada masa ini akan terjadi perubahan sangat drastis.

Oleh karena itu, terdapat dua aspek yang harus diperhatikan oleh istri dan suami saat melewati masa-masa tersebut agar tetap sehat dan dapat melahirkan bayinya dengan selamat dan sehat.

Aspek pertama yang harus dipenuhi oleh seorang wanita hamil demi kesehatan bayi yang dikandungnya adalah fisik.

Itu berarti bahwa sangat penting untuk menjaga kondisi fisik sang ibu, terutama yang berkaitan dengan asupan gizi bagi ibu dan bayi yang dikandungnya.

Aspek kedua adalah psikis ibu yang mencakup mental dan ketahanan jiwa sang ibu itu sendiri. Bagaimana kesiapannya untuk menjalani masa kehamilan hingga persalinan adalah yang harus selalu diperhatikan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa itu adalah masa yang penuh risiko bagi keselamatan ibu dan bayi yang dikandungnya.

Risiko tersebut bersifat dinamis karena ibu hamil yang pada awalnya dalam kondisi normal, secara tiba-tiba dapat menjadi berisiko tinggi.