Program PBB untuk HIV dan AIDS (UNAIDS) memperingatkan stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terpinggirkan mendorong krisis AIDS dan Covid-19. Hal ini harus ditangani untuk mengakhiri apa yang disebut para pejabat sebagai pandemi ganda yang berkaitan.

Dalam sebuah laporan yang dirilis sebelum Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember, badan PBB itu meminta pemerintah untuk menempatkan mereka yang paling rentan sebagai prioritas dalam menanggapi pandemi.

Hampir 40 tahun sejak HIV/AIDS muncul. Sementara kemajuan dalam pengobatan penyakit telah dicapai, AIDS tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Tahun lalu UNAIDS melaporkan 1,7 juta orang terjangkit HIV dan 690 ribu meninggal.

Pejabat kesehatan melaporkan, tanggapan dunia untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030 keluar dari jalurnya, bahkan sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Baca Juga:  Ini Penampakan Tanaman Calathea Lutea Yang Kini Naik Daun

Bagian dari strategi baru UNAIDS untuk menangani AIDS adalah mengarahkan dana untuk orang-orang yang paling berisiko. Namun, Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Belanda, Sigrid Kaag mengatakan hal itu tidak dilakukan.

Ia mencatat sebuah penelitian yang dilakukan Belanda mendapati, hanya dua persen dari pendanaan AIDS di seluruh dunia diberikan untuk mereka yang paling berisiko.

Kaag menambahkan bahwa “Enam puluh dua persen dari infeksi HIV baru terjadi di antara laki-laki gay, pekerja seks, pengguna narkoba dan transgender.

Afrika Timur dan Selatan adalah wilayah yang paling parah terkena HIV, tempat bagi hampir 21 juta dari 38 juta orang yang hidup dengan HIV di seluruh dunia. [ps/pp]

Baca Juga:  Provinsi dengan Kasus Covid-19 Tertinggi dan 4 Berita Kesehatan Lainnya

Sumber: VOA Indonesia

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!