Beranda Kesehatan Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia Terganggu Pandemi

Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia Terganggu Pandemi

13

Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin mengakui bahwa pemberantasan Tuberkulosis (TB) di Indonesia mengalami kemunduran karena seluruh sumber daya yang ada di Tanah Air terkuras untuk menangani pandemi virus corona.

Wapres mengatakan salah satu faktor yang paling terdampak adalah pengumpulan dan pelaporan data kasus TB. Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), Ma’ruf mengatakan pelaporan data kasus TB di 200 negara menurun signifikan pada 2020.

Wapres Ma’ruf Amin dalam acara Puncak Peringatan Hari Tuberkolosis Sedunia tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/3) mengakui penanganan TB di Indonesia mengalami kemunduran akibat Pandemi COVID-19 (screenshoot)


Wapres Ma’ruf Amin dalam acara Puncak Peringatan Hari Tuberkolosis Sedunia tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/3) mengakui penanganan TB di Indonesia mengalami kemunduran akibat Pandemi COVID-19 (screenshoot)

“Bahkan di India, Indonesia dan Filipina dilaporkan mengalami penurunan 25 persen sampai 30 persen antara Januari dan Juni 2020, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (24/3).

WHO, kata Ma’ruf, telah memperingatkan bahwa penurunan pelaporan data kasus TB bisa menyebabkan meningkatnya kematian tambahan akibat penyakit ini. Oleh karena itu, dalam peringatan hari Tuberkulosis sedunia pada 24 maret 2021, diusung tema “Setiap Detik Berharga, Selamatkan Bangsa dan Negara dari Tuberkulosis.”

Terbanyak Ketiga

Ma’ruf menjelaskan Indonesia merupakan negara penyumbang kasus Tuberkulosis terbanyak ketiga di dunia setelah India dan China. Saat ini, kasus TB di Tanah air diperkirakan mencapai 845 ribu kasus dengan angka kematian yang mencapai 93 ribu kasus.

Dari jumlah tersebut, imbuh Ma’ruf, baru 68 persen yang ditemukan dan diobati. Sisa 32 persen yang belum ditemukan berpotensi menjadi sumber penularan.

Seorang perempuan penderita Tuberkulosis (TBC) melihat hasil rontgennya di sebuah rumah sakit TBC di Makassar, Sulawesi Selatan, 23 Oktober 2009. (Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad)


Seorang perempuan penderita Tuberkulosis (TBC) melihat hasil rontgennya di sebuah rumah sakit TBC di Makassar, Sulawesi Selatan, 23 Oktober 2009. (Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad)

“Sesuai dengan perkiraan WHO, bahwa kematian akibat TB akan bertambah sejumlah 400 ribu di seluruh dunia atau setiap jam bertambah sekitar 45 orang meninggal, jika kelangsungan layanan TB esensial terganggu, selama pandemi COVID-19,” jelasnya.

Meski TB termasuk penyakit menular yang bisa diobati, imbuh Ma’ruf, tidak mudah menangani penyakit ini karena dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, seperti kepadatan penduduk, kemiskinan, dan kesadaran hidup sehat.

Tingginya kasus TB di Indonesia, kata Ma’ruf, berdampak pada menurunnya produktivitas masyarakat. Hal ini mengingat kelompok usia masyarakat yang paling banyak terdampak Tuberkulosis adalah kelompok usia produktif.

Berdasarkan data penderita TB di Indonesia, sebanyak 75 persen kasus terjadi pada kelompok usia antara 15-54 tahun, dan 8,2 persen menyerang anak-anak berusia di bawah 15 tahun.

Ia memastikan pemerintah tetap berkomitmen tinggi untuk mengeliminasi penyakit tersebut pada 2030 dan menetapkan empat langkah untuk mencapai target tersebut.

Pertama, meningkatkan intensitas edukasi, komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit tersebut agar masyarakat memahami dan mampu melakukan tindakan pencegahan.

Kedua, meningkatkan intensitas penjangkauan ke masyarakat untuk menemukan pasien TB dan memastikan pasien masuk ke dalam pengobatan TB melalui layanan kesehatan yang tersedia

Ketiga, melakukan penguatan di puskesmas, klinik, atau layanan kesehatan. Hal ini, ujar Ma’ruf, harus disertai dengan meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam melakukan diagnosis dan pengobatan, serta memastikan ketersediaan obat TB.

Kempat, memperkuat sistem informasi dan pemantauan untuk memastikan agar pasien TB menjalani pengobatan sampai mencapai kesembuhan. Ini untuk memutus mata rantai dan menghindari kemungkinan kebal terhadap obat TB.

Target Pemerintah

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam tangkapan layar dalam acara Puncak Perayaan Hari Tubekolosis Sedunia tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/3) mengatakan pengalaman penanganan COVID-19 bisa diaplikasikan untuk penanggulangan TB.


Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam tangkapan layar dalam acara Puncak Perayaan Hari Tubekolosis Sedunia tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/3) mengatakan pengalaman penanganan COVID-19 bisa diaplikasikan untuk penanggulangan TB.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa di Indonesia saat ini, ada 316 per 100 ribu orang terkena Tuberkulosis. Ia pun berusaha agar angka tersebut terus turun.

“Target kita adalah bagaimana menurunkan dari 316 menjadi 65 per 100 ribu rakyat Indonesia yang terkena TBC. Walaupun di tahun 2030, walaupun kata hati saya menginginkan kalau bisa lebih rendah lagi dari 65 per 100 ribu,” ujar Budi.

Budi menjelaskan bahwa angka penemuan TB menurun drastis akibat pandemi COVID-19 pada 2020 karena banyak penderita enggan berobat ke fasilitas kesehatan dengan alasan takut tertular COVID-19.

Meski begitu, kata Budi, semua pihak bisa belajar dari pengalaman mengatasi pandemi COVID-19. Misalnya, bagaimana mengumpulkan data dan laporan penderita TB dari seluruh fasilitas kesehatan sehingga pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat dalam upaya menurunkan angka kasus TB.

Hal-hal lain dalam penanganan pandemi COVID-19 yang bisa ditiru untuk penanganan TB, imbuh Budi, adalah displin melakukan pengujian dan pelacakan dengan menggunakan alat dan infrastruktur yang ada serta mengisolasi pasien.

“Itu semuanya harusnya bisa kita lakukan bersama-sama. Mumpung saat pandemi COVID-19 ini kita dialokasikan dana yang cukup besar kenapa tidak sekalian kita memanfaatkannya untuk mengatasi masalah pandemi dan TBC,” paparnya

Kerugian Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Efendy mengatakan TB masih menjadi penyakit menular yang sangat mematikan. Setiap hari, katanya, ada 4.000 orang yang meninggal karena TB dan hampir 28 ribu orang jatuh sakit akibat penyakit ini. Hal ini, imbuhnya, berdampak buruk pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia ke depan.

Menko PMK Muhadjir Effendy dalam tangkapan layar acara Puncak Perayaan Hari Tuberkolosis sedunia tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/3) mengatakan kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit TB capai miliaran rupiah


Menko PMK Muhadjir Effendy dalam tangkapan layar acara Puncak Perayaan Hari Tuberkolosis sedunia tahun 2021 di Jakarta, Rabu (24/3) mengatakan kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit TB capai miliaran rupiah

Selain itu, katanya, TB juga menimbulkan kerugian ekonomi yang mencapai Rp 136,7 miliar per tahun.

“Orang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan sekitar 38 persen sampai 70 persen dari yang seharusnya. Sehingga TB mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas penduduk Indonesia,” paparnya.

Pemerintah, katanya, akan segera menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) yang akan menekankan pentingnya keterlibatan multi sektoral dalam pengendalian faktor-faktor risiko Tuberkulosis.

Dia memberi contoh, antara lain perubahan perilaku masyarakat, peningkatan kualitas rumah hunian pasien, dan pengendalian infeksi TB di fasilitas pelayanan kesehatan dan ruang publik. [gi/ft]

Sumber: VOA Indonesia