Juru Bicara Vaksin COVID-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi membenarkan bahwa penelitian vaksin COVID-19 Nusantara telah ditunda untuk sementara waktu.

“Tidak dihentikan, tapi ada surat permintaan dari RSUP Kariadi Semarang yang meminta untuk menunda dulu proses penelitian yang dilakukan di sana karena mengingat mereka akan memenuhi dulu persyaratan untuk Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB),” ungkap Nadia ketika dihubungi oleh VOA, di Jakarta, Selasa (23/3).

Dokter Terawan Agus Putranto (saat masih menjabat sebagai Menkes RI) memberikan keterangan kepada pers di bandara Halim Perdanakusuma. (Foto: dok).


Dokter Terawan Agus Putranto (saat masih menjabat sebagai Menkes RI) memberikan keterangan kepada pers di bandara Halim Perdanakusuma. (Foto: dok).

Ia menjelaskan, penelitian vaksin yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto ini akan memasuki uji klinis tahap ke-II, sebelum akhirnya ditunda. Nadia pun tidak menjawab dengan gamblang mengenai kemungkinan bahwa tahapan riset vaksin Nusantara ini tidak memenuhi syarat CPOB sedari awal penelitiannya.

“Ya berarti belum, atau bisa juga belum diminta pada saat itu,” tuturnya.

Pemerintah, dalam hal ini Kemenkes, ujar Nadia,selalu mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang baik dan benar.

“(Berapa lama ditunda?) Saya rasa sih harusnya cepat karena sebenarnya RS Kariadi sebagai site penelitian sudah menyiapkan untuk tentunya pelaksanaan uji coba klinis ini dari vaksin nusantara ini,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa pemerintah akan selalu mendukung upaya penelitian untuk memperoleh vaksin COVID-19 yang bisa membuat Indonesia dan seluruh dunia keluar dari situasi pandemi.

Juru Bicara Vaksin COVID-19 Siti Nadia Tarmidzi. (Foto: VOA).


Juru Bicara Vaksin COVID-19 Siti Nadia Tarmidzi. (Foto: VOA).

“Artinya kan kita mendukung vaksin Nusantara ini, kita kan tidak ingin kemudian nanti dalam prosesnya vaksin Nusantara ini tidak memenuhi kaidah-kaidah dari uji klinis sebuah vaksin. Jadi kita ikuti saja sesuai dengan tahapannya, supaya betul-betul nanti uji klinisnya betul-betul bisa kita manfaatkan,” jelas Nadia.

Nadia juga membenarkan bahwa penelitian vaksin corona berbasis sel dendritik ini melibatkan peneliti dari perusahaan start up AIVITA Biomedical yang berasal yang Amerika Serikat, yang bekerja sama dengan peneliti dari RSUP Dr Kariadi dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Sebelumnya, beredar surat yang diteken langsung oleh Plt Direktur Utama RSUP Dr Kariadi Semarang, Dodik Tugasworo terkait permohonan izin untuk menghentikan sementara penelitian vaksin Nusantara. Surat tersebut ditujukan kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Dalam surat tersebut dikatakan bahwa research site dalam hal ini pihak RSUP Kariadi Semarang meminta kelengkapan dan persiapan persyaratan yang harus dipenuhi dalam penelitian vaksin dendrintik karena belum mendapatkan izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) fase II dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Ahli Epidemiologi: Penelitian Vaksin Nusantara Jangan Dilanjutkan

Sementara itu, ahli epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan sebaiknya penelitian vaksin Nusantara tidak dilanjutkan karena tidak cocok untuk menangani pandemi.

Epidemiolog Universitas Indonsia, Pandu Riono. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)


Epidemiolog Universitas Indonsia, Pandu Riono. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Dijelaskannya, metode penelitian vaksin Nusantara menggunakan sel dendritik yang diambil dari sel darah putih. Sel yang mempunyai fungsi imunitas ini akan dikenalkan dengan antigen virus selama masa inkubasi kurang lebih lima hari, untuk kemudian disuntikkan kembali ke orang yang sama.

“Karena dendrintiknya dari orang yang sama, itu harapannya akan terbuat imunitas. Bayangkan kalau 180 juta orang, mau divaksinasi dengan diambil darahnya dulu kemudian diekspose dan sebagainya, butuh laboratorium, butuh teknikal supaya steril semuanya, butuh seminggu lagi, disuntikan lagi. Emangnya ada yang mau diambil darahnya terus disuntikan lagi, diambil darah untuk donor saja banyak yang gak mau,” ungkap Pandu kepada VOA.

Menurutnya, penelitian dengan menggunakan sel dendrintik lebih cocok digunakan untuk penyakit tertentu, seperti kanker.

“Tidak pas untuk penanganan pandemi, kalau untuk terapi yang bersifat individual ya pas. Kedua, dari segi ilmu sains, imunologi sel dendrintik dengan sistem seperti ini, itu tidak hanya membangkitkan atau menstimulasi imunitas selular. Dalam tubuh kita itu ada dua imunogoblin yang namanya imunitas humoral, sama imunitas selular. Ini cuma selular saja imunogoblinnya atau imunitas humoralnya tidak begitu signifikan. Bagaimana bisa mengatasi pandemi? Jadi gak sesuai dari segi etika berpikir keilmuan,” jelasnya.

Display Vaksin COVID-19 Sinovac Biotech di Beijing, Cina, 24 September 2020. (REUTERS / Thomas Peter)


Display Vaksin COVID-19 Sinovac Biotech di Beijing, Cina, 24 September 2020. (REUTERS / Thomas Peter)

Vaksin-vaksin COVID-19 yang telah beredar dan digunakan oleh dunia seperti salah satunya buatan Sinovac lebih masuk akal dari segi keilmuan, karena menggunakan virus yang dimatikan kemudian langsung disuntikan kepada manusia. Kemudian manusia itu sendiri yang akan membentuk antibodi di dalam tubuhnya.

“Bukan di laboratorium seperti (sel) dendrintik tadi. Itu membutuhkan pembentukan imunitasnya di laboratorium,” tuturnya.

Kemudian, penelitian vaksin COVID-19 Merah Putih juga lebih masuk akal dari segi keilmuan karena menggunakan protein recombinant. Meskipun waktu pembuatannya lebih lama, Pandu percaya bahwa vaksin yang diteliti oleh anak bangsa ini akan membuat peneliti tanah air lebih banyak belajar lagi terkait pembuatan vaksin yang baik dan benar.

“Semuanya vaksin yang terbukti efektif itu kan sudah ada, kecuali kalau betul-betul kita gak punya vaksin, dunia gak punya vaksin. Sekarang itu kita sudah punya vaksin, sudah tersedia, tinggal disuntikan. Problemnya bukan membuat vaksin baru tapi adalah memberikan vaksin sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya kepada masyarakat Indonesia,” pungkasnya. [gi/ab]

Sumber: VOA Indonesia