Apa rasanya menjadi turis asing di negara yang masih berpandemi? Mengunjungi tempat yang biasanya ramai dengan berbagai atraksi kini harus berdampingan dengan berbagai macam protokol kesehatan.

Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia, kegiatan pariwisata mengalami mati suri, namun perlahan tapi pasti beberapa negara mulai bangkit untuk menghidupkan kembali perjalanan wisata, salah satunya adalah Singapura yang mulai membuka perbatasan untuk keperluan bisnis dan perjalanan penting.

Beberapa waktu lalu kami berkesempatan hadir dalam acara TravelRevive, sebuah pameran dagang pariwisata pertama se-Asia Pasifik yang diselenggarakan sejak pandemi COVID-19. Selain menghadiri gelaran tersebut, delegasi dari Indonesia juga diajak untuk berkunjung ke beberapa tempat rekreasi yang biasanya ramai oleh wisatawan.

Baca Juga:  Berhasil Capai Target PBB, New York Hapus Pandemi AIDS Sementara Kota Lain Masih Tertinggal 

Perjalanan ini bisa dibilang sangat baru dan lumayan seru, karena kami bisa dikatakan sebagai “turis percobaan” pertama yang mengelilingi Singapura dalam keadaan pandemi meski negara ini sudah memasuki fase 2.

Sebagai bentuk uji coba, tentu banyak sekali peraturan yang harus dipatuhi oleh para wisatawan asing ini.

Hal pertama yang dilakukan oleh rombongan turis uji coba ini adalah melakukan swab PCR di bandara Changi begitu tiba di Singapura. Setelah selesai, kami diberi token TraceTogether sebagai alat pelacak.

Token ini berfungsi untuk mendeteksi ke mana para turis pergi, agar jika ada yang terpapar COVID-19 dan dekat dengan keberadaan kami, bisa langsung dihubungi oleh pemerintah Singapura.

Baca Juga:  Haji Lane, Tempat Nongkrong Dan Belanja Unik Di Singapura

Sebenarnya alat pelacak TraceTogether ini tidak hanya berlaku bagi para turis tapi juga penduduk lokal, bedanya mereka menggunakan aplikasi yang diunduh di ponsel.

Setiap masuk atau mendatangi sebuah tempat, baik turis ataupun warga lokal tetap harus memindai barcode di pintu masuk sebagai syarat kunjungan agar mudah dilacak.

Hal ini tentu menjadi pengalaman yang baru saat mengunjungi Singapura, belum lagi kami juga harus mengikuti protokol keamanan dan keselamatan yang ada seperti selalu menjaga jarak minimal 1 meter, sebisa mungkin tidak berinteraksi dengan warga lokal,

masker tidak boleh dilepas kecuali saat makan dan minum serta selalu bersama dengan kelompok yang telah ditetapkan oleh pihak penyelenggara yakni Singapore Tourism Board (STB).

Baca Juga:  "Future Seascapes" pamerkan lukisan klasik dengan tema masa depan

​​​​Setiap kelompok terdiri dari lima orang dan tidak boleh berpindah keanggotaan tanpa persetujuan dari penyelenggara. Kelompok ini akan terus bersama hingga saat kepulangan kembali ke Indonesia.

Sumber: Antara