FireEye, perusahaan keamanan siber terkemuka AS, Selasa (9/12) menyatakan pemerintah asing yang meretas dengan “kemampuan kelas dunia” menerobos jaringannya dan mencuri perangkat ofensif yang digunakannya untuk menguji ketahanan ribuan pelanggannya yang mencakup pemerintah federal, negara bagian dan lokal serta perusahaan-perusahaan global besar.

Peretas “terutama mencari informasi yang terkait dengan pelanggan pemerintah tertentu,” kata CEO FireEye Kevin Mandia dalam sebuah pernyataan, tanpa menyebut nama-nama mereka. Ia mengatakan tidak ada indikasi para peretas mendapatkan informasi pelanggan dari bisnis konsultasi atau bisnis respons terhadap peretasan di perusahaan itu, atau mengancam data intelijen yang dikumpulkannya.

Stan FireEye dalam pameran konferensi keamanan dunia maya Black Hat 2016 di Las Vegas, Nevada, AS, 3 Agustus 2016. (REUTERS / David Becker)

 

Stan FireEye dalam pameran konferensi keamanan dunia maya Black Hat 2016 di Las Vegas, Nevada, AS, 3 Agustus 2016. (REUTERS / David Becker)

“Saya menyimpulkan bahwa kami menyaksikan serangan oleh suatu negara dengan kemampuan ofensif tingkat tinggi,” kata Mandia, yang menganggapnya serangan itu “berbeda dari puluhan ribu insiden yang telah kami tanggapi selama bertahun-tahun.”

Ia maupun seorang juru bicara FireEye tidak mengatakan siapa yang mungkin bertanggung jawab atau kapan perusahaan itu mendeteksi peretasan.

Sementara itu, mantan peretas Badan Keamanan Nasional (NSA) Jake Williams, direktur Rendition Infosec, mengemukakan pendapatnya bahwa operasi itu konsisten dengan pelaku negara Rusia. “Apakah data pelanggan dapat diakses atau tidak, peretasan itu masih merupakan kemenangan besar bagi Rusia,” lanjutnya. [uh/ab]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!