Terkait Covid-19, peneliti program Ilmu Kesehatan Masyarakat Boston University mendapati peningkatan lima kali lipat gejala depresi di kalangan orang Amerika keturunan Asia. Menurut seorang psikiater, larangan berkumpul guna mengekang penularan virus, membebani orang Asia yang senang berkumpul.

Covid-19, penyakit akibat virus corona, melipatgandakan tingkat depresi pada orang dewasa di Amerika pada semua kelompok demografis. Peneliti dari program Ilmu Kesehatan Masyarakat Boston University pada April 2020 mendapati peningkatan lima kali lipat gejala depresi di kalangan orang Amerika keturunan Asia. Padahal, tingkat kenaikan hanya tiga kali lipat pada masyarakat secara keseluruhan.

“Terpapar pemicu stress, ada anggota keluarga yang di-PHK, kehilangan pekerjaan, kesulitan membayar sewa rumah, semua itu terkait depresi. Hasil penelitian menunjukkan, orang yang diidentifikasi sebagai Asia non-Hispanik, lebih mungkin terpapar pemicu stres tersebut,” kata Catherine Ettman, peneliti Boston University yang melakukan penelitian tersebut.

Tidak semua orang sanggup bekerja dari rumah selama pandemi Covid-19. (Foto: ilustrasi).


Tidak semua orang sanggup bekerja dari rumah selama pandemi Covid-19. (Foto: ilustrasi).

Drg. Meriana Martin, diaspora Indonesia di Myrtle Beach, South Carolina, mengalami beberapa pemicu stres dan mulai menderita depresi. Jam kerja suaminya dikurangi dan anak-anak bersekolah secara daring. Tetapi pemicu terbesar justru pekerjaan karena ia masih praktik sebagai ortodontis sehingga selalu cemas akan membawa pulang virus. Tempatnya berpraktik sudah menerapkan langkah-langkah pencegahan, misalnya menyaring pasien, namun ia tetap khawatir.

“COVID ini meskipun kita negatif hari ini, mungkin dalam dua jam, bisa positif. Ketidakpastian itu tetap mengkhawatirkan. Walaupun dia negatif, mungkin itu negatif palsu,” kata Dg Meriana Martin.

Hal lain yang membebani Meriana, staf memilih tinggal di rumah karena khawatir tertular sehingga ia kekurangan staf. Dan staf yang bekerja terkadang sakit atau membuatnya cemas karena ada anggota keluarga atau teman yang terpapar virus corona.

Meriana bersyukur ia tidak jatuh ke depresi yang berat. Ia rutin mencurahkan perasaan kepada keluarga inti maupun keluarga besar dan berpegang pada tali agama.

Murni Lubis. (Foto: pribadi)


Murni Lubis. (Foto: pribadi)

Menanggapi hasil penelitian Boston University, Dokter Murni Lubis, diaspora Indonesia yang berpraktik dokter kesehatan jiwa atau psikiater di klinik di kawasan Los Angeles mengaku tidak terkejut. Sebagai imigran, kata Murni, orang Asia merasa dituntut bekerja keras, dua kali lipat dari masyarakat umumnya.

“Sebelum datang, kadang-kadang terpikir Amerika ini is a dream country. Semua yang sering kita lihat di movie-movie tetapi ternyata kan di sini, untuk mencapai hidup yang layak, itu perjuangannya cukup berat,” kata Dr. Murni Lubis.

Anchalee Dulayathitikul, perawat asal Thailand di negara bagian Maryland, AS. (Foto: dok)


Anchalee Dulayathitikul, perawat asal Thailand di negara bagian Maryland, AS. (Foto: dok)

Selain itu, menurut Dr. Murni Lubis, orang Asia umumnya senang berkumpul. Untuk mencegah penularan virus, justru orang dilarang kumpul. Larangan ini memberatkan masyarakat Asia. “Memang feeling isolated cenderung membuat orang merasa lebih depresi,” jelasnya.

Murni juga mengatakan, depresi secara luas dialami petugas medis di mana pun, seperti terjadi pada Drg. Meriana. Mereka, kata Murni, ingin menyelamatkan pasien, tetapi tidak mampu. Mereka bekerja keras tetapi diliputi kekhawatiran akan tertular atau membawa pulang virus. Mereka juga terpukul ketika anggota keluarga, orang yang dikenal, menjadi korban Covid.

Mengatasi depresi, kata Murni, awali dengan tidak malu atau ragu mengakui. Jangan sampai dibiarkan semakin parah dan merambat ke kesehatan fisik, seperti serangan jantung dan stroke. Dapatkan dukungan mental dari kerabat, teman atau kelompok keagamaan. Jadi, kata Murni, penting mencari pertolongan dan menanganinya dengan serius. [ka/ab]

Sumber: VOA Indonesia