Vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech menetralkan varian virus corona yang menyebar dengan cepat yang ditemukan baru-baru ini di Brasil, demikian hasil penelitian di laboratorium.

Para ilmuwan dari Pfizer dan University of Texas mengambil darah dari orang-orang yang mendapat vaksin Pfizer dan mencampurnya dengan versi virus yang telah direkayasa yang disebut P.1 itu. Para peneliti mendapati vaksin itu kurang lebih sama efektif dalam melawan varian Brasil, sebagaimana halnya terhadap versi virus lainnya yang tidak semenular itu tahun itu.

Hasil kajian itu diterbitkan hari Senin di New England Journal of Medicine.

Dalam perkembangan lain terkait vaksin, pengelola dana abadi Rusia RDIF telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan farmasi berbasis di Swiss Adienne untuk memproduksi secara massal vaksin virus corona Sputnik V yang dikembangkan Rusia untuk pada akhirnya digunakan di Eropa. Vaksin ini akan diproduksi di fasilitas Adienne di Milan, Italia, berdasarkan kesepakatan yang dicapai hari Selasa.

Baca Juga:  Manfaat dan Kandungan Gizi Daun Mint

Uni Eropa telah memperingatkan negara-negara anggotanya agar tidak membeli vaksin COVID-19 Rusia, karena Uni Eropa belum menuntaskan peninjauannya terhadap Sputnik V. Tetapi regulator obat-obatan Uni Eropa, European Medicines Agency, semakin mendapat kecaman yang kian besar karena lambannya proses persetujuan bagi kandidat vaksin COVID-19, yang mendorong beberapa negara untuk secara sepihak menyetujui Sputnik V.

Suatu penelitian yang telah mendapat penelaahan sejawat yang diterbitkan di jurnal kedokteran The Lancet bulan lalu menunjukkan vaksin dua dosis Sputnik V hampir 92 persen efektif menghilangkan gejala COVID-19.

Dengan semakin banyaknya vaksin virus corona yang tersedia bagi masyarakat umum, industri penerbangan AS mendesak pemerintahan presiden Joe Biden untuk menyusun standar baru bagi dokumen perjalanan untuk para pelancong guna membuktikan bahwa mereka telah dites untuk, atau divaksinasi COVID-19.

Baca Juga:  Resep Pastel Salmon, Baik Untuk Tulang

Dalam sepucuk surat yang dikirim hari Senin kepada Jeffrey Zients, ketua tim tanggap COVID-19 Presiden Joe Biden, lebih dari 30 maskapai penerbangan, organisasi pengusaha dan serikat pekerja yang meminta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) untuk mengambil posisi memimpin dalam mengembangkan standar baru yang mereka harapkan pada akhirnya mengarah pada dimulainya kembali perjalanan global.

Banyak negara dan organisasi sedang berupaya mengembangkan apa yang disebut “paspor vaksin” bagi pelancong untuk membuktikan mereka telah mendapat vaksinasi COVID-19. Tetapi Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan dokumen semacam itu tidak dapat digunakan untuk perjalanan internasional karena vaksin virus corona tidak tersedia dengan mudah secara global. [uh/ab]

Baca Juga:  Kian Dekat, Persetujuan Penggunaan Darurat Vaksin COVID-19 Kedua di AS

Sumber: VOA Indonesia