7 Atraksi Wisata Yang Sebenarnya Melanggar Hak Hidup Binatang Namun Tidak Kita Sadari.

0
280
Ilustrasi matador (REUTERS/Jaime Saldarriaga)

Spanyol adalah salah satu negara tujuan pariwisata dunia, Negara itu juga rupanya tidak lepas dari kritik pedas para aktivis pecinta hewan. Sebab sebuah event bernama “Pamplona bull run” yang baru saja diadakan, dianggap mendukung suksesnya tradisi pembantaian terhadap banteng.

Namun tidak hanya di Spanyol saja, beberapa negara pun masih melakukan tradisi yang mengeksploitasi binatang atas nama pariwisata. berikut adalah tujuh atraksi yang sebaiknya kamu hindari agar tidak termasuk sebagai pendukung pelanggar hak hidup binatang.

1. Adu Banteng

Meski protes dan kecaman terus datang dari pemerhati binatang, atraksi adu banteng melawan matador masih bisa disaksikan di beberapa tempat di Spanyol. Kelompok yang mendukung kegiatan ini menyerukan UNESCO untuk memasukkannya sebagai warisan budaya dunia. Permainan yang berasal dari abad pertengahan ini juga cukup populer atau pernah populer di Perancis Selatan, Portugal, Ekuador, Meksiko, Colombia, Peru, dan Venezuela.

2. Menunggangi gajah

Atraksi menunggangi gajah sangat tenar di Asia, Thailand ialah salah satu negara yang menyulapnya menjadi sebuah atraksi wisata. Padahal untuk menjinakkan seekor gajah diperlukan beberapa metode kekerasan.

Lihat Juga:  Diluar Prediksi, Peserta Kemah Alam Ke 2 FPPAI Sul-Sel terdaftar lebih Dari 1000 orang.

Menurut Peta, sebuah organisasi yang fokus melundungi hak hidup binatang, gajah sering mendapat perlakuan kejam seperti pemukulan dengan benda-benda yang keras agar kelak dapat mematuhi perintah si pawang. Sehingga bisa disimpulkan bahwa sebenarnya gajah bisa patuh karena akumulasi rasa sakit yang diderita.

3. Sabung Ayam

Ilustrasi gambar dari 500px.com

Permainan yang digelar sejak zaman Kerajaan Demak ini masih lumayan populer di Indonesia, salah satu yang terkenal diantaranya ialah di Bali. Dua ekor ayam jantan disabung sampai salah satu menyerah dan kabur atau bahkan sampai mati. Permainan tradisional ini juga tidak lepas dari unsur perjudian.

4. Berenang bersama lumba-lumba

Lumba-lumba kerap kita kenal sebagai hewan yang ramah dan cerdas, sehingga banyak orang yang mau bertemu langsung bahkan berenang bersamanya. Namun sebenarnya berenang bersama lumba-lumba, apalagi di ajang pertunjukan lumba-lumba, tidak lebih dari upaya terus melangsungkan penculikan mamalia cerdas ini.

Lihat Juga:  Api Asian Games Singgah Di Sleman, Diharapkan Bisa Meningkatkan Jumlah Wisatawan

Tidak banyak orang yang tahu jika lumba-lumba yang sering dijadikan objek atraksi wisata itu melewati proses sulit dan menyedihkan hingga dapat dianggap memukau. Ia dipisahkan dari keluarganya, kemudian harus menjalani rangkaian latihan keras yang kerap membuat mereka stres. Bahkan sering ditemukan lumba-lumba dicekoki obat-obatan untuk keperluan latihan.

5. Adu Domba

(Gambar Ilustrasi atraksi Adu Domba)

Atraksi adu domba ini cukup populer di Garut, Jawa Barat. Menurut cerita, awal abad ke-19 adalah awal dimulainya permainan itu. Sama seperti banteng yang bertarung lawan matador di Spanyol, domba aduan juga mendapatkan perawatan spesial dari pemiliknya. misalnya seperti: makan, minum, dan juga jamu obat-obatan untuk kesehatannya.

6. Bertemu Hiu Menggunakan Kerangkeng

Menghadapi puluhan ikan hiu di laut lepas tentu bukan impian siapapun. Namun, ada beberapa pemilik pariwisata di afrika Selatan justru membuat paket berenang di tengah kerumunan ikan hiu ganas, namun dilindungi dengan kerangkeng besi.

Lihat Juga:  Kebakaran Padang Savana Bromo Tidak Berdampak Pada Tingkat Kunjungan Wisatawan

Untuk memancing keganasan hiu, kadang mereka mengikat daging segar beserta lumuran darah. Hal inilah yang disinyalir memancing perilaku hiu menjadi semakin ganas.

7. Balapan Anjing

Gambar diambil dari sini

Diperkirakan anjing-anjing pelari harus menghabiskan 95 persen waktunya bukan untuk berlari, namun dalam kandang. Selain latihan berat, hewan ini sering mendapat perlakukan yang kejam, tak jarang di beri obat peningkat prestasi.

Masa-masa “menyenangkan” bagi anjing pelari tidaklah lama. Banyak anjing pelari yang apabila sudah dianggap tidak bisa berprestasi lagi atau sudah uzur diterlantarkan begitu saja atau bahkan dibunuh.